MCFC

MCFC

Minggu, 29 Maret 2015

Organisasi dan Metode

1.Arti Pentingnya Organisasi dan Metode

Pengertian Organisasi dan Metode

Sebelum menginjak pada materi membahasan organsisasi, berikuti diuraikan terlebih dahulu pengertian organisasi dan metode secara lengkap, terlebih dahulu akan ditinjau secara sekilas arti dari kata organisasi dan metode.Istilah organisasi dapat diartikan sebagai berikut:

· Wadah : Sekelompok manusia untuk saling bekerja sama.
·  Proses : Pengelompokan manusia dalam suatu kerja sama yang efisien.
Sedangkan istilah metode tersebut berarti suatu tata kerja yang dapat mencapai tujuan secara efisien.  Pengertian Organisasi dan Metode secara lengkap adalah  Rangkaian proses kegiatan yang harus dilakukanuntuk menibgkatkan kegunaan segala sumber dan factor yang menentukan bagi berhasilnya proses Manajemen terutama dengan memperhatikan fungsi dan dinamika organisasi atau birokasi dalam rangka mencapai tujuan yang sah ditetapkan.

Dari pengertian tersebut terkandung beberapa maksud yaitu :
-         Organisasi dan metode merupakan kunci atau syarat pelaksanaan kerja yang setepat tepatnya
-         Organisasi dan metode penting bagi kegiatan manajemen
-         Organisasi dan metode dapat memanfaatkan sumber-sumber dan waktu yang tersedia
-         Organisasi dan metode berguna dalam meningkatkan efisiensi kerja untuk mencapai tujuan.
-         Organisasi adalalah sekumpulan orang yang bekerja sama yang mempunyai tujuan yang sama dan mempunyai manajemen.dan setiap menajemen itu sendiri tidak pernah terlepas dari 4 hal ini di antaranya adalah:P,O,A,C. Yaitu:

PLANING adalah perencanaan

Organization adalah pengorganisasi

Actuniety adalah penepatan sesuai prosedur

Controling adalah pengawasan

Jadi sepintar apapun orang dengan beragam title dan sarjana jika ia membuat organisasi maka ia tak akan terlepas oleh 4 hal ini,karena ini selalu mencakupi untuk berjalannya roda organisasi itu sendiri.dan begitu banyak sekali macam-macam definisi organisasi itu sendiri dan saya hanya menjelaskan define umum organisi dari orang yang termuka diantaranya adalah:
Definisi organisasi:

-         Menurut chester I bernand (suatu system kegiatan bersama antar 1 orang dan lebih dari 2 orang,sesuatu sifat yang tidak berwujud &tidak bersifat berseorangan dan sebagian besar mengenai hubungan)

-          Menurut JOHN M.GOUS (tata hubungan antar orang-orang untuk untuk dapat memungkinkan tercapainya tujuan bersama dengan adanya pembagian tugas & dan bertanggung jawab atas tugasnya)

-          Menurut JOMES D.MOONEY ( bentuk kerjasama manusia untuk pencapai tujuan bersama) Dan organisasi itu juga mempunyai pandangan diantaranya adalahsebagai pandangan wadah”tempat kegiatan dilaksanakan,dan juga sebagai proses”yaitu hubungan formil dan informal,dan sebagai system.

-Organisasi sebagi wadah jadi wadah sebagai tempat pelaksanaan organisasi tersebut
-Organisasi sebagai proses adalah memperhatikan interaksi atau kerjasama antar anggota dalam organisasi dan proses di bagi menjadi 2 yaitu proses formal dan proses informal
Dan proses formal adalah organisasi pola hubungan yang ditetapkan secara resmi oleh top manejemen. Proses informal mempunyai 3 peranan yaitu:
1.untuk saran komunikasi
2.untuk engatur kerjasama
3.untuk memelihara kebebasan dalam bertindak

·          Organisasis bagai system sosial suatu system antar hubungan sesame manusia
·          Sebagai system fungsional => antar fungsi fungsi yang dikaitkan secra tertentu & integral untuk mencapai tujuan organisasi
·          Komunikasi yakni tata salura antar arus informasi dalam organisasi

Bagaimana sebuah organisasi bisa dikatakan baik? Organisasi yang baik bisa di katakan organisasi yang terorganisir, organisasi yang mempunyai visi dan misi atau tujuan yang jelas, organisasi yang mempunyai perencanaan yang matang,organisasi yang mempunyai kreatifitas dan inofatif dalam membuat perencanaan,organisasi yang bisa berkembang sesuai dengan tujuan dan visi misi yang sudah menjadi kesepakatan. Sekarang ini banyak organisasi yang gagal. Ini karena hal-hal diatas tidak terpenuhi.
Kerjasamamerupakan salah satu kunci keberhasilan. Kerjasama yang baik bisa menjadi awal sebuah organisasi bisa berjalan dengan lancar dan baik,di samping itu juga perlu adanya komunikasi yang baik pula. Tanpa ada kerjasama dan komunikasi yang baik,sebuah organisasi tidak akan bisa bertahan lama, Jika hal-hal itu tidak terpenuhi maka organisasi tidak akan berjalan dengan baik.

Bentuk Organisasi Niaga
Dalam pembahasan ini saya akanmembahas bentuk organisasi Niaga yaitu Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Terbatas (PT), adalah suatu persekutuan untuk menjalankan usaha yang memiliki modal terdiri dari saham-saham, yang pemiliknya memiliki bagian sebanyak saham yang dimilikinya. Karena modalnya terdiri dari saham-saham yang dapat diperjualbelikan, perubahan kepemilikan perusahaan dapat dilakukan tanpa perlu membubarkan perusahaan. PT dipimpin oleh direksi, Sedangkan pegawainya berstatus sebagai pegawai swasta
Perseroan terbatas merupakan badan usaha dan besarnya modal perseroan tercantum dalam anggaran dasar. Kekayaan perusahaan terpisah dari kekayaan pribadi pemilik perusahaan sehingga memiliki harta kekayaan sendiri. Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu saham yang menjadi bukti pemilikan perusahaan. Pemilik saham mempunyai tanggung jawab yang terbatas, yaitu sebanyak saham yang dimiliki. Apabila utang perusahaan melebihi kekayaan perusahaan, maka kelebihan utang tersebut tidak menjadi tanggung jawab para pemegang saham. Apabila perusahaan mendapat keuntungan maka keuntungan tersebut dibagikan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Pemilik saham akan memperoleh bagian keuntungan yang disebut dividen yang besarnya tergantung pada besar-kecilnya keuntungan yang diperoleh perseroan terbatas.
Selain berasal dari saham, modal PT dapat pula berasal dari obligasi. Keuntungan yang diperoleh para pemilik obligasi adalah mereka mendapatkan bunga tetap tanpa menghiraukan untung atau ruginya perseroan terbatas tersebut.
Untuk mendirikan PT, harus dengan menggunakan akta resmi ( akta yang dibuat oleh notaris ) yang di dalamnya dicantumkan nama lain dari perseroan terbatas, modal, bidang usaha, alamat perusahaan, dan lain-lain. Akta ini harus disahkan oleh menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (dahulu Menteri Kehakiman). Untuk mendapat izin dari menteri kehakiman, tentunya juga harus memenuhi syarat-syarat
·          Visi : Untuk menjadi yang terdepan dalam memenuhi kepuasan Mitra Usaha / Klien.
·          Misi : Memberikan pelayanan terbaik kepada Mitra Usaha dengan sistem yang terintegrasi untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia kami sebagai tenaga terlatih yang profesional sehingga mampu untuk bersaing didunia internasional.

Struktur Organisasi
Dengan melakukan pemilihan serta penentuan struktur organisasi yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi dalam perusahaan maka pencapian tujuan perusahan akan lebih terarah. Selain itu denga struktur organisasi yang jelas dan baik maka akan dapat diketahui sampai dimana wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki oleh seseorang dalam menjalankan tugasnya. Dalam menjalankan aktivitas usahanya, PT menerapkan struktur organisasi fungsional dimana organisasi menurut fungsi menyatukan semua orang yang terlibat dalam satu aktivitas yang disebut fungsi dalam satu group.

Bentuk Fungsional
Ciri–ciri: Bawahan mendapat perintah dari beberapa pejabat yang masing-masing menguasai suatu bidang keahlian tertentu dan bertanggung jawab sepenuhnya atas bidangnya. Pada bentuk ini pimpinan mempercayakan sepenuhnya kepada para ahli dalam bidang masing-masing.
Kebaikan :
Ø  Bidang pekerjaan khusus diduduki oleh seorang ahli yang memungkinkan bekerja atas dasar keahlian dan kecintaan akan tugasnya.Tanggung jawab atas fungsinya terjamin.
Keburukan :
Ø  Koordiansi sulit dilaksanakan
Ø  Dapat menimbulkan dispersonalisasi
Ø  Keahlian memimpin kurang dapat dijamin
Ø  Atas kesatuan komando sulit dilaksanakan
Adanya Strukrur Organisasi pada perusahaan merupakan manifestasi dan cerminan dari kekuatan manajemen SDM perusahaan dalam mencapai Visi dam Misi bisnis perusahaan.  Struktur organisasi perusahaan yang tepat, efektif, dan efisien akan memberikan jaminan kinerja perusahaan yang tinggi, demikian pula sebaliknya. Jika desain struktur organisasi tidak optimal, akan mengakibatkan efek yang berkepanjangan terhadap lemahnya kinerja organisasi perusahaan, meskipun sekarang setiap organisasi sudah maju tetap saja perusahaan harus memiliki struktur organisasi. Agar organisasi dapat terkontrol.

Manajemen dan Organisasi
Manajemen adalah proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerjasama antar manusia.
Rumusan tersebut mengandung pengertian adanya hubungan timbal balik antara kegiatan dan
kerjasama disatu pihak dengan tujuan di pihak lain.

2.sejarah organisasi berkembang

“Organisasi adalah kemampuan untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan organisasi” – Nancy Dixon, 1994
“Organisasi di mana orang-orangnya secara terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di mana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, di mana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan di mana orang-orang secara terus-menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama” – Peter Senge, 1990
“Organissasi adalah sebuah kesatuan yang terdiri dari sekelompok orang yang bertindak secara bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan bersama” – Burky dan Perry, 1998

 3.Desain organisasi formal dan informal

Organisasi Formal
Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional. Contoh : Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya.
Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari. Contoh : Arisan ibu-ibu sekampung, belajar bersama anak-anak sd, kemping ke gunung pangrango rame-rame dengan teman, dan lain-lain.

Manajemen adalah proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerjasama antar manusia. Rumusan tersebut mengandung pengertian adanya hubungan timbal balik antara kegiatan dan kerjasama disatu pihak dengan tujuan di pihak lain.

Tata kerja atau metode adalah satu cara bagaimana (how) agar sumber – sumber dan waktu yang tersedia dan amat diperlukan dapat dimanfaatkan dengan tepat sehingga proses kegiatan manajemen dapat dilaksanakan dengan tepat pula.Dengan tata kerja yang tepat mengandung arti bahwa proses kegiatan pencapaian tujuan sudah dilakukan secara ilmiah dan praktis, disamping itu pemakaian tata kerja yang tepat pada pokoknya ditujukan untuk :
Tata Kerja : Menjelaskan bagaimana proses kegiatan itu harus dilaksanakan sesuai dengan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.

Eratnya hubungan atau hubungan timbal balik antara ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut : Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya.

Organisasi Informal
Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari.
Contoh : Arisan ibu-ibu sekampung, belajar bersama anak-anak sd, kemping ke gunung pangrango rame-rame dengan teman, dan lain-lain.
Salah satu bagian penting organisasi adalah pengelompokkan informal dan hubungan-hubungan pribadi yang dapat lebih berpengaruh dibanding dengan hubungan formal seperti yang ditunjukkan bagan organisasi.
Argiyris mengemukakan empat bidang utama dimana bidang organisasi formal dan informal berbeda:
1. Hubungan-hubungan antar pribadi. Hubungan-hubungan antar pribadi didalam organisasi formal digambarkan jelas, sedangkan dalam organisasi informal tergantung pada kebutuhan-kebutuhan mereka.
2. Kepemimpinan. Para pemimpin dirancang dan ditentukan dalam formal serta muncul dan dipilih dalam informal.

3. Pengendalian perilaku. Organisasi formal mengendalikan perilaku karyawan melalui penghargaan dan hukuman, sedangkan kelompok informal mengendalikan para anggota dengan pemenuhan kebutuhan.
4. Ketergantungan. Karena kapasitas pemimpin formal terletak pada penghargaan dan hukuman, bawahan-bawahan lebih tergantung dari pada para anggota suatu kelompok informal.
Walaupun ada perbedaan tersebut adalah suatu kesalahan bila menganggap kelompok formal dan informal sebagai dua kesatuan organisasi yang terpisah. Keduanya hidup bersama dan tidak dapat dipisahkan setiap organisasi formal selalu mempunyai organisasi informal dan setiap organisasi informal brkembang dalam berbagai tinkatan formal.

4. Teori organisasi yang di terapkan dalam perusahaan

Definisi menurut para pakar : Menurut Herbert A. Simon, Donald W. Smithburg, dan Victor A. Thompson , Organisasi adalah suatu sistem terencana mengenai usaha kerjasama dalam mana setiap peserta mempunyai peranan yang diakui untuk dijalankan dan kewajiban-kewajiban atau tugas-tugas untuk dilaksanakan. Ada beberapa bagian dari organisasi, yaitu :
  1. The Operating Core. Yang termasuk disini adalah para pegawai yang melaksanakan pekerjaan dasar yang berhubungan dengan produksi barang dan jasa.
  2. The Strategic Apex. Yang termasuk di dalam bagian ini adalah manajer tingkat puncak (top management).
  3. The Middle Line. Yang termasuk di dalam bagian ini adalah para manajer yang menjembatani manajer tingkat atas dengan bagian operasional
  4. The Technostructure. Yang termasuk dalam bagian ini adalah mereka yang diserahi tugas untuk menganalisa dan bertanggung jawab terhadap bentuk standarisasi dalam organisasi.
  5. The Support Staff. Yang termasuk disini adalah orang-orang yang memberi jasa pendukung tidak langsung terhadap organisasi ( orang-orang yang mengisi unit staff).

5. Hubungan timbal balik antara manajemen organisasi dan tata kerja

1.Hubungan Timbal Balik Antara Manajemen, Organisasi Dan Tata Kerja
A.Manajemen dan Organisasi
B.Manajemen dan Tata Kerja
v  Menghindari terjadinya pemborosan di dalam penyalahgunaan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.
v  Menghindari kemacetan-kemacetan dan kesimpangsiuran dalam proses pencapaian tujuan.
v  Menjamin adanya pembagian kerja, waktu dan koordinasi yang tepat.
Jadi hubungan antara manajemen dan tata kerja dapat dilukiskan seperti dibawah ini : Manajemen : Menjelaskan perlunya ada proses kegiatan dan pendayagunaan sumber-sumber serta waktu sebagai faktor-faktor yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan demi tercapainya tujuan.

C. Manajemen, Organisasi, dan Tata Kerja
v  Manajemen : Proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerjasama antar manusia.
v  Organisasi : Alat bagi pencapaian tujuan tersebut dan alat bagi pengelompokkan kerjasama.
v  Tata kerja : Pola cara-cara bagaimana kegiatan dan kerjasama tersebut harus dilaksanakan sehingga tujuan tercapai secara efisien.

6.Fungsi satuan organisasi dan metode dalam suatu perusahaan

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (Sampoerna) merupakan salah satu produsen rokok terkemuka di Indonesia. Kami memproduksi sejumlah merek rokok kretek yang dikenal luas, seperti A Mild, Sampoerna Kretek, serta “Raja Kretek” yang legendaris Dji Sam Soe. Kami adalah afiliasi dari PT Philip Morris Indonesia (PMID) dan bagian dari Philip Morris International Inc. (PMI), perusahaan tembakau terkemuka di dunia.
Misi kami adalah untuk menawarkan pengalaman merokok terbaik kepada perokok dewasa di Indonesia. Hal ini kami lakukan dengan senantiasa mencari tahu preferensi perokok dewasa dan memberikan produk yang dapat memenuhi ekspektasi mereka. Kami bangga atas reputasi yang kami raih dalam hal kualitas dan inovasi, serta standar tata kelola perusahaan kami yang tinggi.
Pada tahun 2013, Sampoerna memiliki pangsa pasar sebesar 36,1% di pasar rokok Indonesia, berdasarkan hasil Nielsen Retail Audit Results Full Year 2013. Pada akhir 2013, jumlah karyawan Sampoerna dan anak perusahaannya mencapai sekitar 33.500 orang. Selain itu, Perseroan juga berkerja sama dengan 38 unit Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang berada di berbagai lokasi di Pulau Jawa dalam memproduksi Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan secara keseluruhan memiliki lebih dari 56.500 orang karyawan. Perseroan menjual dan mendistribusikan rokok melalui 105 kantor area penjualan di seluruh Indonesia.
Metode dalam PT.SAMPOERNA
Visi dan Misi Sampoerna
Visi  Sampoerna terkandung dalam “Falsafah Tiga Tangan”. Falsafah tersebut mencerminkan lingkungan usaha dan peranan Sampoerna di dalamnya. Masing-masing dari ketiga ”Tangan” tersebut mewakili: perokok dewasa; karyawan dan mitra bisnis; serta masyarakat luas. Ketiganya merupakan pemangku kepentingan Sampoerna dalam mencapai visi sebagai perusahaan paling terkemuka di Indonesia.
1.      Menyediakan produk-produk berkualitas tinggi bagi perokok dewasa dalam kategori harga pilihan merek
Sampoerna berkomitmen penuh untuk memproduksi rokok berkualitas tinggi dengan harga yang wajar bagi konsumen dewasa. Ini dicapai melalui penawaran produk yang relevan dan inovasi untuk memenuhi selera konsumen yang dinamis.
2.      Memberikan kompensasi yang kompetitif dan lingkungan kerja yang baik kepada karyawan dan membina hubungan baik dengan mitra usaha
Karyawan adalah aset terpenting Sampoerna. Kompensasi, lingkungan kerja dan peluang yang baik untuk pengembangan karir dan diri adalah kunci utama dalam membangun motivasi dan produktivitas karyawan. Di sisi lain, mitra usaha Sampoerna juga berperan penting dalam keberhasilan Perseroan dan kami mempertahankan kerjasama yang erat dengan mereka untuk memastikan vitalitas dan keberlangsungan mereka.
3.      Memberikan sumbangsih kepada masyarakat luas
Kesuksesan Sampoerna tidak terlepas dari dukungan masyarakat di seluruh Indonesia. Dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan dan kontribusi Perseroan, kami memfokuskan pada kegiatan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, pelestarian lingkungan, dan penanggulangan bencana.
Kami adalah perusahaan global yang mempekerjakan lebih dari 85.000 orang di berbagai fasilitas pabrik dan kantor penjualan di seluruh dunia. 
Di mana pun kami melakukan proses manufaktur, kami selalu menerapkan standar yang sama persis untuk memastikan kualitas prima yang diharapkan para perokok merek kami.
Operasional kami sehari-hari tidak hanya meliputi produksi rokok, tetapi juga mencakup cara kami berbisnis dan berinteraksi dengan dunia di luar kantor kami, baik secara lokal ataupun global.
Salah satu tujuan utama kami adalah menjadi perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial, di tingkat lokal maupun global. Di setiap negara tempat produk kami dijual, kami dipandu oleh prinsip dasar yang sama:
·         Kami menyampaikan dampak serius merokok terhadap kesehatan.
·         Kami menganjurkan regulasi tembakau yang efektif, berdasarkan bukti serta berlandaskan pada prinsip pengurangan bahaya.
·         Kami mendukung pelaksanaan dan pemberlakuan tegas ketentuan yang mengatur usia minimum pembelian produk tembakau. Kami juga bekerjasama erat bersama pengecer dan mitra lain untuk menerapkan program pencegahan merokok di kalangan anak dan remaja.
·         Kami bekerja sama dengan pembuat kebijakan, lembaga penegak hukum, dan pihak pengecer untuk memerangi perdagangan ilegal rokok palsu dan selundupan.
·         Kami menerapkan kebijakan dan program untuk menjalankan operasi yang mendukung keberlanjutan, termasuk mengurangi penggunaan sumber daya alam, menurunkan emisi karbon, mendaur ulang serta mengurangi limbah.
·         Kami bekerja sama dengan petani dan pemasok untuk mengembangkan pertanian tembakau yang berkelanjutan. 
·         Melalui program Agricultural Labor Practices (ALP/Praktik Tenaga Kerja Pertanian), kami bekerjasama dengan pemasok dan petani, lembaga masyarakat, dan pemerintah untuk mengatasi masalah pekerja anak dan pelanggaran lainnya tentang ketenagakerjaan terkait dengan mata rantai pasokan kami.
·         Kami berkontribusi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat lokal di mana kami beroperasi dan menghasilkan tembakau kami dengan membantu masyarakat melalui kegiatan sosial, kegiatan sukarela, dan dukungan terhadap berbagai lembaga nirlaba
Tata Kelola Perusahaan
Kami juga teguh menjalankan program tata kelola perusahaan yang baik dan ditujukan untuk melindungi seluruh pemangku kepentingan Sampoerna. Komitmen tersebut kami wujudkan dengan mengembangkan dan menjaga standar kepatuhan, perilaku tanggung jawab dan integritas yang tertinggi di seluruh lapisan organisasi Sampoerna.
Sampoerna menetapkan standar kepatuhan dan integritas yang sangat tinggi dalam menjalankan usaha. Aturan berperilaku (code of conduct) yang diterapkan pada seluruh afiliasi PMI, termasuk Sampoerna, dikomunikasikan kepada seluruh karyawan Sampoerna. Program pelatihan diadakan secara berkala dan partisipasi karyawan diawasi dengan seksama.

7.Mendeskripsikan fungsi-fungsi pelayanan organisasi & metode pada organisasi

Pengertian umum
Organisasi adalah sebuah system yang terdiri dari sekelompok individu yang melalui suatu hierarki systematis dalam pembagian kerja,dalam rangka mencapai tujuan yang tlah di tetapkan secara structural dan sistematis.
Metode adalah suatu cara ,pendekatan,atau proses untuk menyampaikan informasi

8.membuat kerangka hubungan timbale balik antara manajemen organisasi dan tata kerja dalam perusahaan.


Sumber: www.sampoerna.com

Nama         : Mulky Panji Dinihari

Npm/Kelas: 37114629 / 1DB03

Anggota Kelompok : - Mulky Panji Dinihari
                                     - Diangga Cilna
                                     - Muhammad Rafidan

Senin, 26 Januari 2015

Komunikasi Organisasi

Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi[1].Komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horisontal. [2].

Gaya komunikasi organisasi

Gaya komunikasi mengendalikan

Gaya komunikasi mengendalikan (dalam bahasa Inggris: The Controlling Style) ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications.

Pihak - pihak yang memakai controlling style of communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk berharap pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. Para komunikator satu arah tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangannya.

Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha ‘menjual’ gagasan agar dibicarakan bersama namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya. The controlling style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik. Namun demkian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang negatif pula.

Gaya komunikasi dua arah

Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi The Equalitarian Style dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama. Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way communication).
Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja. The equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindak berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi.

PROSES KOMUNIKASI ORGANISASI

KOMUNIKASI INTERNAL

 Pertukaran gagasan di antara para administrator dan karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam perusahaan, sehingga pekerjaan dapat berjalan. Empat Dimensi Komunikasi organisasi

1. Downward communication Yaitu komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini adalah: a) Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja (job instruction) b) Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale) c) Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices) d) Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.

Ada 4 metode dalam penyampaian informasi kepada para pegawai menurut Level (1972): 1. Metode tulisan 2. Metode lisan 3. Metode tulisan diikuti lisan 4. Metode lisan diikuti tulisan

2. Upward communication Yaitu komunikasi yang terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada atasannya. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah: a) Penyampaian informai tentang pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan b) Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan c) Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan d) Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.

Komunikasi ke atas menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya segelintir kecil manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari bawah. Sharma (1979) mengemukakan 4 alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit: 1. Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka 2. Perasaan bahwa atasan mereka tidak tertarik kepada masalah yang dialami pegawai 3. Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai 4. Perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai

3. Horizontal communication Yaitu komunikasi yang berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara. Fungsi arus komunikasi horisontal ini adalah: a) Memperbaiki koordinasi tugas b) Upaya pemecahan masalah c) Saling berbagi informasi d) Upaya pemecahan konflik e) Membina hubungan melalui kegiatan bersama


4. Interline communication Yaitu tindak komunikasi untuk berbagi informasi melewati batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas-saluran ini karena biasanya tanggung jawab mereka berhubungan dengan jabatan fungsional. Karena terdapat banyak komunikasi lintas-saluran yang dilakukan spesialis staf dan orang-orang lainnya yang perlu berhubungan dalam rantai-rantai perintah lain, diperlukan kebijakan organisasi untuk membimbing komunikasi lintas-saluran.

Sistem Pengawasan Pemerintahan Di Indonesia dan Permasalahannya

Sistem Pengawasan Pemerintahan Di Indonesia dan Permasalahannya

A. PENGERTIAN PENGAWASAN
1. George R Terry dalam bukunya “Principles of management” menyatakan

 pengawasan sebagai proses untuk mendeterminir apa yang akan dilaksanakan,mengevaluir pelaksanaan dan bilamana perlu menerapkan tindakan-tindakankorektif sedemikian rupa hingga pelaksanaan sesuai dengan rencana.

2. Henry Fayol dalam bukunya “General Industrial Management” menyatakan,
 pengawasan terdiri atas tindakan meneliti apakah segala sesuatu tercapai atau berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan berdasarkan instruksi-instruksi yang telah dikeluarkan, prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.3.

3. Harold Koonzt dan Cyril O’Donnel dalam bukunya “Principles of Management”
menulis bahwa, pengawasan adalah penilaian dan koreksi atas pelaksanaan kerjayang dilakukan oleh bawahan dengan maksud untuk mendapatkan keyakinan ataumenjamin bahwa tujuan-tujuan perusahaan dan rencana-rencana yang digunakanuntuk mencapainya dilaksanakan.4.

4. S. P Siagian dalam bukunya “Filsafat Administrasi” memberikan definisi tentang
 pengawasan sebagai proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatanorganisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedangdilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

5. Sarwoto dalam bukunya “Dasar
dasar Organisasi dan Manajemen” menyatakan
sebagai berikut: pengawasan adalah kegiatan manajer yang mengusahakan agar  pekerjaan pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atauhasil yang dikehendaki.

B. RUANG LINGKUP PENGAWASAN
Pengawasan bertujuan menunjukkan atau menemukan kelemahan-kelemahan agar dapat diperbaiki dan mencegah berulangnya kelemahan-kelemahan itu. Pengawasan beroperasi terhadap segala hal, baik terhadap benda, manusia, perbuatan, maupun hal-hal lainnya. Pengawasan manajemen perusahaan untuk memaksa agar kejadian-kejadian sesuai dengan rencana. Jadi pengawasan hubungannya erat sekali denganperencanaan, dapat dikatakan bahwa “perencanaan dan pengawasan adalah kedua sisidari sebuah mata uang” artinya rencana tanpa pengawasan akan menimbulkan
 penyimpangan-penyimpangan dengan tanpa ada alat untuk mencegahnya.

C. TUJUAN PENGAWASAN
Menjamin ketepatan pelaksanaan sesuai rencana, kebijaksanaan dan perintah(aturan yang berlaku) Menertibkan kordinasi kegiatan. Kalau pelaksana pengawasan banyak jangan ada objek pengawasan dilakukan berulang-ulang, sebaliknya ada objek yang tak pernah tersentuh pengawasan. Mencegah pemborosan dan penyimpangan.Karena pengawasan mempunyai prinsip untuk melindungi masyarakat, maka pemborosan dana yang ditanggung masyarakat harus dicegah oleh penyimpanganyang dilakukan pihak kedua. Misalnya harga obat nama dagang yang sepuluh kaliobat nama obat generic dengan komposisi dan kualitas yang sama, pada hal yang berbeda hanya promosinya saja, maka wajarkah biaya promosi yang demikian besar dan cara-cara demikian perlu dipertahankan sebagai prinsip pengawasan yangmelindungi masyarakat.Menjamin terwujudnya kepuasan masyarakat atas barang dan jasa yangdihasilkan. Tujuan akhir suatu pekerjaan yang professional adalah terciptanyakepuasan masyarakat (konsumen), Masyarakat puas akan datang kembali danmengajak teman-temannya, sehingga meningkatkan produksi / penjualan yangakhirnya akan meningkatkan pendapatan perusahaan. Membina kepercayaanmasyarakat pada kepemimpinan organisasi. Jika barang atau jasa yang dihasilkanmemenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat, maka masyarakat tidak saja percaya pada pemberi jasa, tapi juga pada institusi yang memberikan perlindungan padamasyarakat dan akhirnya percaya pula pada kepemimpinan organisasi.

D. PROSES PENGAWASAN
Proses Pengawasan adalah Proses yang menentukan tentang apa yang harusdikerjakan, agar apa yang diselenggarakan sejalan dengan rencana. Artinya pengawasan itu terdiri atas berbagai aktivitas, agar segala sesuatu yang menjadi tugasdan tanggungjawab manajemen terselenggarakan. Proses pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan kegiatan organisasi, oleh karena itu setiap pimpinan harusdapat menjalankan fungsi pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen. Fungsi pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan organisasi terhadap setiap pegawai yang berada dalam organisasi adalah wujud dari pelaksanaan fungsi administrasi dari pimpinan organisasi terhadap para bawahan, serta mewujudkan peningkatan efektifitas, efisiensi, rasionalitas, dan ketertiban dalam pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas organisasi.Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan organisasi akan memberikan implikasiterhadap pelaksanaan rencana akan baik jika pengawasan dilakukan secara baik, dantujuan baru dapat diketahui tercapai dengan baik atau tidak setelah proses pengawasan dilakukan. Dengan demikian peranan pengawasan sangat menentukan baik buruknya pelaksanaan suatu rencana.

Proses pengawasan terdiri dari beberapatindakan (langkah pokok) tertentu yang bersifat fundamental bagi semua pengawasanmanajerial, langkah-langkah pokok ini menurut George R Terry meliputi:1.

Menetapkan Standar PengawasanStandar Pengawasan adalah suatu standar (tolok ukur) yang merupakan patokan bagi pengawas dalam menilai apakah obyek atau pekerjaan yang diawasi berjalandengan semestinya atau tidak. Standar pengawasan mengandung 3 (tiga) aspek,yaitu:a)

Rencana yang telah ditetapkan, mencakup kualitas dan kuantitas hasil pekerjaan yang hendak dicapai, sasaran-sasaran fungsional yang dikehendaki,faktor waktu penyelesaian pekerjaan. b)

Ketentuan serta kebijaksanaan yang berlaku, mencakup ketentuan tentang tatakerja, ketentuan tentang prosedur kerja (tata cara kerja), peraturan per UU-anyang berkaitan dengan pekerjaan, kebijaksanaan resmi yang berlaku, dll.c)

Prinsip-prinsip daya guna dan hasil guna dalam melaksanakan pekerjaanmencakup aspek rencana dan ketentuan serta kebijaksanaan telahterpenuhi, pekerjaan belum dapat dikatakan berjalan sesuai semestinya apabilaefisien dan efektivitasnya diabaikan, artinya kehemetan dalam penggunaandana, tenaga, material dan waktu.2.

Mengukur Pelaksanaan PekerjaanPenilaian atau pengukuran terhadap pekerjaan yang sudah/senyatanya dikerjakandapat dilakukan melalui antara lain:

- Laporan (lisan dan tertulis)
- Buku catatan harian tentang itu, Baganc)
- Jadwal atau grafik produksi/hasild)
- Insfeksi atau pengawasan langsung; Pertemuan/konferensi dengan petugas-petugas yang bersangkutan; Suvei yang dilakukan oleh tenaga staf atau melalui penggunaan alat teknik.

Membandingkan Standar Pengawasan dengan Hasil Pelaksanaan PekerjaanAktifitas tersebut di atas merupakan kegiatan yang dilakukan pembandinganantara hasil pengukuran dengan standar. Maksudnya, untuk mengetahui apakahdiantaranya terdapat perbedaan dan jika ada, maka seberapa besarnya perbedaantersebut kemudian untuk menentukan perbedaan itu perlu diperbaiki atau tidak.4.

Tindakan Koreksi (Corrective Action)Apabila diketahui adanya perbedaan, sebab-sebabnya perbedaan, dan letak sumber perbedaan, maka langkah terakhir adalah mengusahakan danmelaksanakan tindakan perbaikannya. Dari kegiatan tersebut di atas ada perbaikanyang mudah dilakukan, tetapi ada juga yang tidak mungkin untuk diperbaikidalam waktu rencana yang telah ditentukan. Untuk solusinya maka perbaikandilaksanakan pada periode berikutnya dengan cara penyusunan rencana/ standar  baru, disamping membereskan factor lain yang menyangkut penyimpangantersebut, antara lain:

- Reorganisasi
- Peringatan bagi pelaksana yang bersangkutan, dsb.

E. JENIS-JENIS PENGAWASAN
Berdasrkan Lembagaa.
 Pengawasan Atasan Langsung (Pengawasan Melekat)Dasar: Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1983 tentang Pedoman PelaksanaanPengawasan. Pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa pengawasan terdiri dari:

a)Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan atasan langsung baik di tingkatPusat maupun di tingkat Daerah;

b) Pengawasan yang dilakukan secara fungsional oleh aparat pengawasan.Pengawasan yang dimaksud dalam butir (a) adalah merupakan pengawasan atasan langsung, sesuai dengan bunyi pasal 
3 sebagai berikut:Pimpinan semua satuan organisasi pemerintahan, termasuk proyek  pembangunan di lingkungan departemen/lembaga instansi lainnya,menciptakan pengawasan melekat dan meningkatkan mutunya didalam lingkungan tugasnya masing masing; (2) Pengawasan melekat dimaksud dalam ayat (1) dilakukan:

1) Melalui penggarisan struktur organisasi yang jelas dengan pembagiantugas dan fungsi beserta uraiannya yang jelas pula;

2) Melalui perincian kebijaksanaan pelaksanaan yang dituangkan secaratertulis yang dapat menjadi pegangan dalam pelaksanaannya oleh bawahan yang menerima pelimpahan wewenang dari atasan;

3) Melalui rencana kerja yang menggambarkan kegiatan yang harusdilaksanakan, bentuk hubungan kerja antar kegiatan tersebut, danhubungan antar berbagai kegiatan beserta sasaran yang harusdicapainya;

4) Melalui procedure kerja yang merupakan petunjuk pelaksanaan yang jelas dari atasan kepada bawahan;

5) Melalui pencatatan hasil kerja serta pelaporannya yang merupakan alat bagi atasan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan bagi pengambilan keputusan serta penyusunan pertanggung-jawaban, baik mengenai pelaksanaan tugas maupun mengenai pengelolaan keuangan;

6) Melalui pembinaan personil yang terus menerus agar para pelaksanamenjadi unsur yang mampu melaksanakan dengan baik tugas yangmenjadi tanggungjawabnya dan tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan maksud serta kepentingan tugasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Josep Riwu Kaho, Prospek Otonomi Daerah di Negara Indonesia, Rajawali Press, Jakarta(cetakan I), 1988.H. La Ode Husen, SH., MH., Dr, Hubungan Fungsi Pengawasan Dewan PerwakilanRakyat Dengan Badan Pemeriksaan Keuangan Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia,CV. Utomo, Bandung, 2005.Atnadja, Arifin P. Soeria,Reorientasi Penertiban Fungsi Lembaga Pengawasan danPemeriksaan Keuanagan Negara,FHUI,Depok,1997.Wajong J,Fungsi Administrasi Negara,Djakarta Djambatan, Jakarta,1969.Situmorang, Viktor M, Aspek Hukum Pengawasan Melekat dalam Lingkunagan Aparatur Pemerintah,Jakarta Rineka Chipta, Jakarta,1994.Sujamto, Aspek-Aspek Pengawasan di Indonesia, Jakarta Sinar Grafika,Jakarat,1986.http://itjen-depdagri.go.id/article-25-pengertian-pengawasan.html

Kamis, 27 November 2014

Tugas Sistem Perencanaan Pembelajaran

I. PENDAHULUAN
Dalam ajaran Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan suci – lalu kedua orang tua mereka yang melakukan usaha-usaha untuk menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi (Al Hadits) – Kansep manusia bersih dan suci mengilhami para filosof mengkontruksi pemikiran tentang pola Tabularasa ala John Locke yang kemudian mengilhami paradigma empirisme bahwa peserta didik pada asalnya adalah sekelompok manusia yang tidak memiliki ide atau gagasan, sehingga guru berfungsi mentransfer pengetahuan kepada peserta didik.
Paradigma peserta didik tidak memiliki pengetahuan menjadi factor utama mengapa guru selaly menempatkan diri sebagai pusat ilmu pengetahuan dan mengabaikan kemampuan proses eksplorasi yang dimiliki oleh siswa. Kesalahpahaman terhadap potensi siswa menyebabkan proses pembelajaran tidak maksimal bahkan cenderung menghasilkan peserta didik yang apatis dan kebingungan dalam artian seharusnya ia memperoleh lebih dari hanya sekadar menerima pengetahuan – tetapi ia menerima metode pemahaman, pengembangan dan pengelolaan ilmu pengetahuan atau bahkan metode eksplorasi keilmuan yang mandiri sebagaimana yang dikembangkan oleh penganut metode inquiri.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut, maka kita membutuhkan pendekatan-pendekatan yang realible terhadap obyek pembelajaran, karena dengan pendekatan yang tepat, kita akan mampu menyusun rencana pembelajaran yang tepat.


II. PENGERTIAN PENDEKATAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A. Pengertian Pendekatan Sistem
Pendekatan atau Approach dalam bahasa Inggris diartikan sebagai “came near (menghampiri), go to (jalan ke) dan way path dengan (arti jalan). Dalam pengertian ini dapat dikatakan bahwa approach adalah cara menghampiri atau mendatangi sesuatu.
Berdasarkan Word Web – kata approach dalam bentuk noun (kata benda), berarti Ideas or actions intended to deal with a problem or situation, misalnya kata "his approach to every problem is to draw up a list of pros and cons" atau ia juga berarti The act of drawing spatially closer to something seperti kalimat "the hunter's approach scattered the geese"
Dalam bentuk verb, approach berarti Come near or verge on, resemble, come nearer in quality, or character seperti arti kalimat "His playing approaches that of Horowitz". Terkadang approach juga berarti make advances to someone, usually with a proposal or suggestion seperti kalimat "I was approached by the President to serve as his adviser in foreign matters"[1]
H.M Habib Thaha mendefiniskan pendekatan adalah cara pemrosesan subyek atas obyek untuk mencapai tujuan. Pendekatan ini juga berarti cara pandang terhadap sebuah obyek permasalahan, dimana cara pandang tersebut adalah cara pandang yang luas. Sedangkan Prof. Dr. Oteng Sutisna, M.Sc lebih praktis dalam memahami pengertian ”pendekatan”. Pendekatan adalah apa yang hendak ia kerjakan dan bagaimana ia akan mengerjakan sesuatu. Yang pertama disebut dengan pendekatan pengertian ”tugas” dan yang kedua adalah pendekatan dalam pengertian ”proses”[2]
Penggunaan istilah ”pendekatan” memiliki arti yang berbeda-beda tergantung kepada obyek apa yang akan menjadi tema sentral perencanaan kerja dan kajian pemikiran yang akan dikembangkan. Dalam konstek belajar, approach dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan peserta didik untuk menunjang efesiensi dan efektifitas dalam proses pembelajaran tertentu. Dengan demikian sesungguhnya approach adalah seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa, untuk memecahkan masalah atau untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Sudah barang tentu approach dalam pengertian tersebut membutuhkan pandangan falsafi (mendasar) terhadap subyek matter yang diajarkan, selanjutnya akan melahirkan metode mengajar yang dijabarkan dalam bentuk tehnik penyajian pembelajaran.
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen (elemen) yang saling berhubungan satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan tertentu. Keberhasilan sebuah perencanan sangat tergantung bagaimana seseorang tersebut membuat system yang akan menjadi format aktifitas dalam mewujudka sebuan tujuan. Oleh sebab itu untuk menentukan system yang bagus diperlukan sebuah analisis system (system analyisis).
Sistem analisis adalah sebuah proses kajian yang sangat detail berkaitan dengan elemen sebuah perencanaan atau system itu sendiri, termasuk didalamnya adalah tujuan kegiatan, hasil yang akan dicapai dan hubungan timbal balik antar elemen tersebut. Dengan kata lain analisis system adalah kerangka dasar metode berfikir untuk memecahkan masalah atau sesuatu persoalan[3].
Analisis system sekurang-kurang dilakukan terhadap tiga komponen utama, yaitu masukan (input), proses, dan keluaran (output) Yang dapat digambarkan sebagai berikut

INPUT
(MASUKAN)
OUTPUT
(KELUARAN)

PROSES


UMPAN BALIK/FEEDBACK



Input adalah materi mentah yang menjadikan system itu beroperasi atau melakukan proses. Proses merupakan kegiatan-kegiatan dalam mengolah input, sedangkan output adalah keluaran yang berupa hasi; dari proses. Terkadang hasil dari sebuah proses yang dilakukan terjadi ketidakpuasan atau kurang memenuhi target yang ditetapkan dalam sebuah system, sehingga perlu ada analisis dan koreksi terhadap output sebuah proses berupa feedback.
Untuk menindaklanjuti feedback sekalligus untuk mengukur sebuah output tersebut memuaskan atau bahkan tidak memuaskan, maka diperlukan parameter yang jelas dan ditetapkan sebelum sebuah system tersebut menerima input, melakukan proses dan menghasilkan output, misalnya dengan menetapkan :
1. Tujuan yang ingin dicapai
2. Input yang akan masuk (diinginkan)
3. Bagaimana proses pengelolaan input (materi yang akan diberikan kepada input, cara menanganinya, dan alat-alat yang digunakan)
4. Bagaimana melakukan penilaian terhadap output, dan
5. Bagaimana melakukan perbaikan terhadap output.

Pendekatan system berarti menentukan cara memproses sebuah obyek oleh subyek dengan system yang telah ditentukan pula. Pendekatan system dewasa ini dianggap lebih rasional dan efektif untuk memperoleh output yang baik dalam sebuah proses pembelajaran. Sistem yang baik dalam proses akan membantu mencapai hasil yang maksimal walau mungkin input yang diperoleh kurang bagus – mengapa demikian. Kemampuan analisis system yang baik terhadap input akan membantu menemukan cara untuk melakukan pemrosesan input. Pembelajaran yang dilakukan tanpa didahului oleh proses pendekatan terhadap obyek atau peserta didik akan menyebabkan guru mengalami keterbatasan dalam menetapkan metode atau bahkan strategi dalam proses pembelajaran.


Drs. Lukmanul Hakim, M.Pd. menggambarkan kerangka pendekatan system sebagai berikut[4] :

RESTRICTION
Obyektives
Performance Standard
Constraint



PROSES
INPUT
OUTPUT



UMPAN BALIK/FEEDBACK

  
Pada pendekatan system tersebut dapat dilihat bahwa apa yang ingin dicapai (Restriction) merupakan dasar analisis suatu system. Restriction terumuskan dalam bentuk tujuan (Objectives), standar prilaku yang diharapkan (Performance standart) dan juga kemungkinan hambatan dalam mencapai tujuan (Constraint). Berdasarkan pada tujuan system, maka dirumuskan input yang ingin diciptakan sesuai dengan tujuan. Masukan diproses sehingga menghasilkan keluaran (output) tertentu. Hasil evaluasi terhadap output dijadikan feedback sebagai bahan perbaikan atau revisi.

B. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan sebagaimana yang telah dijelaskan merupakan proses pendefinisian tujuan dan bagaimana untuk mencapainya. Artinya ia lebih banyak menetapkan output yang ingin dicapai, mengartikulasikannya dalam bentuk strategi, taktik. Operasi yang diperlukan untuk mencapainya.
Drs. Atang Widjaja Tunggal membagi perencanaan menjadi dua, yaitu perencanaan formal (formal planning) dan perencanaan tidak formal (informal Planning). Perencanaan tidak formal merupakan proses secara intuitif memutuskan tujuan-tujuan dan aktifitas-aktifitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut, tanpa penyelidikan yang kaku dan sistematis. Sedangkan perencanaan formal adalah proses mengguanakan investigasi dan analisiss system untuk menentukan tujuan, aktifitas atau strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan, dan secara formal mendokumentasikan ekspektasi organisasi[5]
Dalam setiap perencanaan, seseorang sekurang-kurangnya akan melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Apa yang akan dicapai
2. Dengan cara apa akan dicapainya
3. Alasan-alasa apa yang digunakan untuk menentukan cara-cara pencapaian itu
4. Kapan hal tersebut tercapai
5. Bagaimana pentahapan cara penyelesaiannya
6. Siapa yang akan melaksanakannya
7. Bilamana dan bagaimana akan mengadakan penilaian
8. Kemungkinan-kemungkinan apa yang kiranya dapat mempengaruhi pelaksanaan
9. Bagaimana mengadakan penyesuaian dan perubahan rencana dan sebagainya[6].

Dengan demikian perencanaan menjadi suatu yang sangat mendasar dan menentukan keberhasilan suatu program, karena ia menyangkut penentuan tujuan, aktifitas atau proses untuk mencapai tujuan baik menyangkut siapa yang melakukan, tahapan penyelesaian dan alat atau instrument apa yang digunakan untuk mencapainya sekaligus ditentukan pula evaluasi hasil sebuah aktifitas.
Perencanaan dalam pembelajaran berarti menentukan tujuan, aktifitas dan hasil yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berasal dari kata "ajar" dan kemudian dalam ilmu pendidikan klasik dikenal dengan istilah "mengajar". Kata mengajar memiliki 3 arti yaitu menyampaikan pengetahuan pada anak, menyampaikan pengetahuan dan kebudayaan pada anak dan mengatur aktifitas lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.
Drs. Abu Ahmadi menjelaskan bahwa pengertian mengajar yang berarti menamankan pengetahuan dan kebudayaan pada siswa akan melahirkan system "teacher centered" dimana guru menjadi actor utama, sedangkan mengajar yang berarti membentuk lingkungan sehingga terjadi proses belajar akan mengarahkan pada system "pupil centered" yang berarti guru hanya menjadi fasilitator dan pembimbing[7].
Dalam perspektif lainnya, praktek pembelajaran yang dilakukan oleh guru terhadap murid, terbagi dalam 3 kelompok, yaitu :

1. Pengajaran - guru yang mengajar dengan cara menyampaikan pelajaran semata-mata. Guru biasanya berdiri di depan kelas, mengahadapi siswa dan menjelaskan materi pelajaran. Siswa duduk dengan rapi, mendengarkan dan mencatat uraian guru, dihafalkan agar kelak dapat menjawab pertanyaan dengan baik jika diadakan ulangan. Sistem pengajaran tersebut bersifat pasif (tidak ada dinamika pemikiran) dan verbalistic (disampaikan dengan lisan). Secara sederhana situasi pengajaran demikian digambarkan dengan "DUDUK, DENGAR, CATAT DAN HAPALKAN".

2. Pembelajaran – guru yang mengajar dengan menciptakan situasi dan kondisi belajar yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan tujuan artinya ia tidak hanya mengetahui meteri pelajaran tetapi ia juga mampu memahami, menerapkan suatu konsep atau memiliki ketrampilan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
Guru dalam kelompok pembelajaran bertindak sebagai fasilitator, pemberi motivasi dan rangsangan, pembimbing dan konsultan terhadap kesulitan yang dihadapi siswa serta mengarahkan proses pada tujuan yang telah ditetapkan. Siswa menjadi lebih aktif dengan melakukan diskusi, latihan, eksperimen atau proses discoveri keilmuan.

3. Pembelajaran bebas – guru berperan sebagai pembimbing siswa dalam pembelajaran. Siswa memilih materi pembelajaran apa yang akan dipelajari sesuai dengan minat dan pilihannya serta bagaimana cara mempelajarinya[8].

Dengan definisi tersebut, maka penggunaan pembelajaran dinilai lebih baik di-bandingkan dengan "mengajar". Mengajar hanya menjadikan siswa sebagai kelompok yang tidak memiliki ilmu dan diberlakukan sebagai obyek bodoh dan pasif sedangkan guru bertindak sebagai kelompok super yang tidak mungkin salah. Pembelajaran mengambil sisi baik dari proses mengajar dan memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri. Hal teersebut didukung dengan kemajuan ilmu peengetahuan dan teknologi yang memungkinkan siswa memperoleh keluasan materi pelajaran dari sumber lainya selain guru mata pelajaran, misalnya buku, artikel atau melakukan browsing di internet berkaitan dengan mata pelajaran tersebut. Guru sebagai penyampai materi pelajaran juga dapat melakukan improvisasi dengan metode pembelajaran yang beraneka ragam sesuai dengan stressing mata pelajaran tersebut.

III. URGENSI PENDEKATAN SISTEM PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Dalam perkembangan pendidikan modern – pendidikan dilakukan dengan proses yang sistematis dan sangat terencana, hal tersebut dimungkinkan karena perkembangan ilmu pengetahuan yang aplikatif. Siswa tidak lagi dianggap sebuah obyek bodoh yang mati, tetapi ia telah memiliki bekal ilmu pengetahuan baik yang diperoleh dari jenjang pendidikan sebelumnya atau berasal dari eksplorasi keilmuan secara mandiri, sedangkan guru hanya berfungsi sebagai salah satu sumber ilmu dan moral. Disamping itu terdapat prinsip bahwa pembelajaran sebenarnya bukan aplikasi dari apa yang di kehendaki oleh guru tetapi apa yang dikehendaki oleh peserta didik.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka perencanaan pembelajaran menjadi bangunan awal sebuah proses pembelajaran. Sebagai bangunan awal proses pembelajaran, perencanaan harus dibuat dengan memperhatikan input dan out put yang hendak dicapai sekaligus didalamnya memuat aktifitas atau proses untuk mencapainya.
Pendekatan system perencanaan pembelajaran sangat penting bagi proses pembelajaran, karena disana terdapat arahan yang menunjukkan cara atau metode yang digunakan untuk memproses input sehingga menghassilkan output yang baik. Secara umum dapat kita sarikan kepentingan pendekatan system perencanaan pembelajaran sebagai berikut :
Dapat memberikan arahan tentang tujuan dalam system pembelajaran yang akan dilakukan oleh seorang guru.
Dapat memberikan petunjuk tentang materi pembelajaran
Menjelaskan tentang kegiatan yang harus dilakukan sebagai komponen system pembelaajaran.
Memberikan penjelasan tentang cara, metode dan alat yang akan digunakan dalam proses pembelajaran
Dapat melakukan proses evaluasi sebagai dasar feedback.

Perencanaan pembelajaran berarti menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan penggambaran tentang perubahan-perubahan yang diharapkan dari siswa. Robert F. Merger menjelaskan bahwa tujuan merupakan deskripsi pola-pola prilaku atau performance yang diinginkan dapat didemons-trasikan siswa. Agar rumusan tujuan menggambarkan totalitas keinginan dan kepentingan pembelajaran, maka diperlukan standar operasional yaitu
menyatakan prilaku yang akan dicapai
membatasi kondisi perubahan perilaku yang dininginkan, dan
menyatakan kreteria perubahan perilaku dalam arti menggambarkan standar perilaku minimal yang dapat diterima sebagai hal yang dicapai [9]

sedangkan materi pelajaran adalah isi dari proses yang harus dipelajari dalam proses pembelajaran – agar materi pelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka materi pelajaran harus mempunyai ruang lingkup dan urutan yang jelas. Hal tersebut akan memudahkan kita dalam menentukan metode atau kegiatan yang akan kita tetapkan dalam proses pembelajaran. Dalam proses penetapan metode, seorang guru harus memperhatikan ragam metode yang mungkin dapat digunakan, menetapkan kegiatan-kegiatan yang tidak perlu dilakukakan agar mencapai efesiensi dan menetapkan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Guru dan Siswa.
Materi pelajaran dalam perencanaan pembelajaran harus mengacu pada kurikulum, sehingga tidak berlebihan jika kemudian perencanaan pembelajaran diidentikkan dengan kurikulum. Beberapa pakar pendidikan memberikan kesimpulan yang hampir sama berkaitan dengan kedudukan kurikulum dalam system perencanaan pembelajaran – kurikulum diartikan menjadi 3 hal yaitu :
Kurikulum sebagai perencanaan pembelajaran – karena didalamnya berisi tentang materi yang ingin disampaikan atau ditempuh oleeh siswa untuk memperoleh ijazah atau mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan.
Kurikulum sebagai pengalaman belajar yang akan diperoleh siswa dari sekolah artinya kurikulum tersebut menjelaskan bahwa pengalaman belajar yang akan diperoleh tidak lepas dari apa yang telah disajikan dalam kurikulum tersebut.
Kurikulum diartikan sebagai rencana belajar siswa – artinya dengan melihat kurikulum tersebut siswa secara mandiri dapat melakukan pembelajaran atau mengeksplorasinya sendiri dengan sumber belajar yang juga disebutkan dalam kurikulum tersebut[10].

Kurikulum sebagai bagian integral dari perencanaan pembelajaran berisi tentang rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan materi pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Sudah barang tentu keberadaan kurikulum menambah arti penting perencanaan pembelajaran dalam sebuah system pendidikan itu sendiri.

IV. MODEL DAN POLA PENDEKATAN SISTEM
Pendekatan digunakan dalam pembelajaran berorientasi agar siswa sedikit banyak mengambil peran dari guru – artinya peran guru bergeser dari "menentukan apa yang dipelajari" menjadi "bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa". Pengalaman belajar diperoleh dari serangkaian kegiatan siswa baik studi kepustakaan, eksperimen dan interaksi siswa dengan lingkungannya, siswa dengan temannya, dan nara sumber lain.
Dalam proses perencanaan pembelajaran terkandung juga kegiatan yang akan dilakukan oleh seorang guru terhadap peserta didik, karena pendekatan sangat menentukan interaksi antara guru dan siswa. Pendekatan yang dapat digunakan secara garis besar adalah[11] :

A. Pendekatan imposisi atau ekspositoris yaitu pendekatan dengan ciri guru me-nyampaikan materi pembe-lajaran dengan penuturan atau dengan melontarkan (ekspositoris) materi pembelajaran. Metode ini berkembang dari fakta empiris yang menyatakan bahwa manusia pada mulanya tidak memiliki ide atau pengetahuan apa-apa sebagaimana yang dikembangkan oleh John Locke dengan filosofi "Tabula Rasa" – lalu guru bertindak sebagai supliyer ilmu kepada siswa.

B. Pendekatan Teknologis yaitu pembelajaran dengan menggunakan perangkat (wares), baik berupa perangkat benda atau perangkat keras (hardware), misalnya Radio, Televisi, atau komputer dan perangkat program (software).

C. Pendekatan Personalisasi yaitu pembelajaran dengan meengarahkan pada siswa untuk menentukan apa yang ingin dipelajari, sehingga yang bersangkutan mempertahankan keunggulan yang semula sudan dimiliki dan mengembangkannya sesuai dengan dasar-dasar yang sudah dimiliki. Dalam proses pembelajaran, siswa diarahkan pada prinsip saling membutuhkan, aktif dan jiwa kemandirian. Proses pembelajaran dengan pendekatan personalisasi didasarkan pada filosofi progresifistis yang berpandangan bahwa manusia pada asalnya adalah baik dan aktif.

D. Pendekatan Interaksional yaitu proses pembelajaran dengan pola terjadinya interaksi yang seimbang antara guru dan siswa. Guru aktif dalam memberi rangsangan maupun jawaban, demikian juga siswa. Guru senantiasa melemparkan permasalahan yang terformat dalam media pembelajaran, sehingga siswa terlatih kemampuannya untuk memecahkan masalah melalui penggunaan argumentasi verbal.

E. Pendekatan konstruktivis yaitu proses pembelajaran dimana siswa melakukan preposisi yang sederhana dengan mengkonstruk pengertian terhadap dunia tempatnya hidup. Manusia membangun pengetahuan melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.
Untuk melakukan pendekatan konstruktivis, seseorang harus memahami prinsip-prinsip kontruktifitas yaitu
1. masalah yang sesuai dengan kehidupannya,
2. ppenataan belajar pada konsep primer/utama,
3. menjajaki dan menghargai pendapat siswa,
4. kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan siswa, dan
5. menilai belajar siswa dalam konsteksi mengajar.

Jika kita menggunakan metode konstruktivis, maka sesungguhnya kita telah melakukan kegiatan :
1. mengaktifkan kembali pengetahuan yang sudah ada (activiting knowlidge),
2. memperoleh pengetahuan baru (acquiring knowlidge),
3. pemahaman pengetahuan (understanding konwlidge),
4. mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman (applying konwlidge), dan
5. melakukan refleksi pengetahuan (reflecting konwlidge).

F. Pendekatan Inquiri adalah pemberian mateeri pembelajaran pada siswa untuk menangani permasalaha yang mereka hadapi ketika berhadapan dengan dunia nyata melalui proses penelitian. Siswa sebagai peneliti, maka ia harus melakukan prosedur mengenali permasalahan, menjawab pertanyaan, melakukan research dan investigasi dan menyiapkan kerangka berfikir, hipotesis, dan penjelasan kompatibel dengan pengalaman pada dunia nyata.

G. Pendekatan Pemecahan Masalah – yaitu pembelajaran dengan titik tekan untuk mengembangkan higher order thinking skills (kerangka ketrampilan berfikir tingkat tinggi) melaui proses solving atau pemecahan masalah. Pendekatan Pemecahan Masalah akan merangsang siswa mampu menjadi :
1. Eksplorer (mencari penemuan baru)
2. Inventor (mengembankan gagasan/ide dan pengujian baru yang inovatif
3. Desainer (mengkreasi rencana dan model baru)
4. Desicion maker (pengambil keputusan dengan melatih menetapkan pilihan yang bijaksana.
5. Komunikator (mengembangkan metode dan teknik untuk bertukar pemikiran dan berinteraksi

Dalam perspektif pembelajaran Qur'ani – ditemukan beberapa pola atau model pendekatan yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam adalah :

A. Pendekatan Pengalaman – yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan baik secara individual maupun kelompok. Pengalaman adalah suatu hal yang sangat berharga dalam kehidupan manusia – Syaiful Bachri Djamrah menjelaskan bahwa pengalaman adalah guru tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapapun juga[12].
Al Qur’an memberikan contoh yang sangat jelas bagaimana pendekatan pengalaman dipakai dalam memberikan pelajaran dan peringatan kepada semua manusia agar mereka tidak terjerumus dalam situasi dan perbuatan yang sama –misalnya bagaimana Allah menjadikan jasad Fir’aun sebagai sumber pelajaran dengan pola pendekatan pengalaman. Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Yunus ayat 92[13]

Artinya :” Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami”.

Sedemikian pentingnya pendekatan pengalaman dalam pembelajaran pendidikan Islam, sehingga Allah berkali-kali memerintahkan umat Islam atau manusia pada umumnya untuk mencari pengalaman dengan mengkaji riwayat bangsa-bangsa terdahulu dan terus menerus melakukan kajian terhadap bekas tempat tinggal dan kehidupan mereka, juga dengan berbagai peristiwa alam yang terjadi dalam kehidupan kita – sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Yunus ayat 39 dan 73[14]

Artinya :”bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna Padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu”.

Artinya :”lalu mereka mendustakan Nuh, Maka Kami selamatkan Dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu”.

Metode mengajar yang dapat dipakai dalam pendekatan pengalaman, diantaranya adalah metode eksperimen (percobaan), metode drill (latihan), metode sosiodrama dan bermain peran, dan metode pemberian tugas belajar dan resitasi dan lain sebagainya.

B. Pendekatan Pembiasaan – pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi. Pembiasaan pendidikan memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajaran agamanya, baik secara individu maupun secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari[15].

C. Pendekatan Emosional – yaitu usaha untuk mengubah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan yang buruk. Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada dalam diri manusia – emosi erat kaitannya dengan perasaan manusia. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu; baik perasaan jasmaniah, maupun perasaan rokhaniyah. Di dalam perasaan rokhaniyah tercakup perasaan intelektual, perasaan estetis dan perasaan etis, perasaan sosial dan perasaan harga diri. Peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka akan menjadi bangunan emosi atau perasaan mereka.

D. Pendekatan Rasional – adalah suatu pendekatan mempergunakan rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebesaran dan kekuasaan Allah. Ajaran agama Islam sebagian harus diyakini tanpa ada interpretasi karena memang ajaran tersebut ”ghairu ma’qul”, tetapi dalam konteks yang lain terdapat ajaran yang harus dicerna dengan pendekatan rasio.
Ayat-ayat yang berkaitan dengan penciptaan manusia, penciptaan alam semesta, kekayaan dan keragaman hayati dan aspek-aspek lain dari keindahan tata ruang angkasa – membutuhkan kecermelangan rasio untuk memahaminya. Out put pemahaman dengan pendekatan rasio terhadap keajaiban alam menjadikan manusia bertambah keimanannya – mereka yang mampu menggunakan rasio alam memahami kekuasaan dan kebesaran Allah tersebut dikenal dengan ”Ulul Albab” sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 190-191[16].

Artinya :”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”, ”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Perintah menggunakan akal sebagai alat eksplorasi keilmuan dan keimanan menjadi begitu penting karena akal adalah pintu utama masuknya ilmu pengetahuan dan dengan akal pula manusia mampu memikirkan kebesar-an dan kekuasaan Allah, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Rum ayat 8[17].

Artinya :”dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya keba-nyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya”.

E. Pendekatan Fungsional – adalah usaha memberikan materi agama dengan menekankan pada segi kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pendekatan fungsional dilakukan di sekolah karena dinilai dapat menjadikan agama lebih hidup dan dinamis. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini adalah metode latihan, ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan demonstrasi.

F. Pendekatan Keteladanan – adalah memperlihatkan keteladanan, baik yang langsung melalui penciptaan kondisi, pergaulan yang akrab antara personal sekolah, perilaku pendidikan dan tenaga pendidikan lain yang mencermin-kan akhlaq terpuji, maupun yang tidak langsung melalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah keteladanan[18].
Secara natural, seorang anak dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi, mengasosiasi dan bahkan meniru apa yang pernah dilihat atau dijumpainya. Oleh sebab itu diperlukan public figur yang baik (berakhlaqul karimah) karena anak tersebut akan menjadikannya sebagai bahan rujukan untuk memerankan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan yang paling baik adalah meneladani perilaku dari Rasulullah artinya bagaimana Rasulullah mendidik, bergaul, memimpin umat Islam dan beribadah kepada Allah sebagai wujud syukurnya atas karunia Allah kepadanya. Tidak ada keteladanan yang lebih baik dari pada keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah sebagaimana firman Allah dal Al Qur’an Surat al Akhzab ayat 21[19]

Artinya :”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

G. Pendekatan Terpadu – adalah pendekatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran dengan memadukan secara serentak beberapa pendekatan, yaitu pendekatan keimanan (akidah), pengalaman (experient), pembiasaan, rasional (akliah), emosional (gejolak kejiwaan), fungsional (nilai kegunaan) dan keteladanan (uswah).


V. PENUTUP
Pendekatan system dalam pembelajaran menjadi tolok ukur kinerja seorang guru dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswa, karena didalamnya tergambar secara jelas keinginan, aksi dan hasil yang ingin dicapai oleh seorang guru.
Aplikasi dari perencanaan pembelajaran dapat dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang sifatnya lebih teknis aplikatif. Oleh sebab itu konsep perencanaan pembelajaran dan pendekatan system yang digunakan dalam penyusunan perencanaan pembelajaran akan menentukan tindak lanjut dari proses pembelajaran tersebut.

Daftar Pustaka
[1] Software “Word Web” (soft ware untuk mencari arti kalimat dalam bahasa Inggris)
[2] Prof. Dr. Oteng Sutisna, M.Sc, “Administrasi Pendidikan Dasar Teoristis untuk Praktek Profesional” (Bandung, Angkasa, 1983), 35-36
[3] Drs. Lukmanul Hakim, M.Pd. Perencanaan Pembelajaran" ( Bandung, CV Wacana Prima, 2008) , 69
[4] Ibid , 69

[5] Drs. Amin Widjaja Tunggal, AK.MBA, "Manajemen Suatu Pengantar",( Jakarta, Rineka Cipta, 1993), 141-142.
[6] Prof. Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc, "Administrasi dan Supervisi Pendidikan", (Jogjakarta, Aditya Media, 1993), 51
[7] Drs. Abu Ahmadi, "Didaktik Metodik", (Semarang, Penerbit CV. Thoha, 1978), 8
[8] Dra. Sumiati dan Asra, M.Ed, "Metode Pembelajaran" (Bandung, Penerbit CV. Wacana Prima, 2008), 1-2
[9] Dra. Sumiati dan Asra, M.Ed, "Metode Pembelajaran", 10-11
[10] Drs. Lukmanul Hakim, M.Pd. "Perencanaan Pembelajaran", 5-8
[11] Ibid, 43 - 49
[12] Syaiful Bachri Djamrah dan Aswan Zain, “Strategi Belajar Mengajar”, (Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1997), 70
[13] Departemen Agama RI, “Al Qur’an dan Terjemahanya”, 320-321
[14] Ibid, 313 dan 318
[15] Syaiful Bachri Djamarah dan Aswan Zain, “Strategi Belajar Mengajar”, 70
[16] Departemen Agama RI, “Al Qur’an dan Terjemahannya”, 109-110
[17] Ibid, 642
[18] Ramayulis, “Pengantar Ilmu Pendidikan Islam”, (Jakarta, Kalam Mulia, 1994), 181

[19] Departemen Agama RI, “Al Qur’an dan Terjemahannya”, 670